Kamis, 18 Februari 2010

Ketika Para Ibu Tak Mau Lagi Memberi ASI


Sebelum para ilmuwan melakukan penelitian tentang manfaat air susu ibu, Islam sudah memerintahkan agar para ibu menyusui anak-anaknya. Perintah itu terdapat Surat Al-Baqarah ayat 233 yang berbunyi;


"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang maruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu bila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. "
Berdasarkan ayat tersebut, hubungan intim dengan ibu melalui kegiatan menyusui adalah hak seorang anak yang dilahirkan dari keluarga Muslim. Apalagi berabad-abad kemudian para ilmuwan yang melakukan penelitian mengakui bahwa ASI (Air Susu Ibu) memberikan banyak manfaat bagi perkembangan anak. Bayi-bayi diberi ASI dengan cukup memiliki kekebalan tubuh yang kuat dan memiliki kecerdasan intelektual dan emosional yang lebih baik dibandingkan bayi-bayi yang diberi susu formula.

Meski sudah tahu manfaat ASI, banyak kaum perempuan zaman sekarang yang enggan memberikan ASI pada anak-anaknya, termasuk ketakutan untuk melahirkan secara normal dan lebih memilih melahirkan lewat operasi. Ada fenomena para ibu bersikap lunak terhadap asupan makanan untuk anak-anaknya. Mereka lebih memilih memberikan susu formula dan makanan bayi instan, karena produk susu dan makanan itu kini sudah banyak tersedia di pasaran.

Kecenderungan itu juga terjadi di kalangan perempuan Muslim. Kesadaran untuk memberikan ASI pada anak-anaknya justeru masih tinggi di kalangan muslimah konservatif dengan tingkat pendidikan tinggi. Di balik pakaian tertutup mereka, masih mau memberikan ASI pada anak-anaknya yang masih bayi. Mereka masih memegang teguh kebiasaan kalangan kaum muslimin di awal-awal perkembangan Islam. Para ibu ketika itu, menyapih anaknya setelah berusia dua tahun dan tidak memberikan makanan padat sebelum gigi si anak tumbuh. Jika mereka tidak mampu menyusui bayi-bayi mereka karena alasan yang kuat, maka mereka akan mencari perempuan lain yang bisa menyusui bayi mereka.

Di zaman sekarang, banyak hal yang menyebabkan anak-anak Muslim kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ASI. Baik dari faktor si ibu, anak dan faktor luar seperti sistem rumah sakit yang tidak mempromosikan pemberian ASI Eksklusif pada bayi yang baru lahir. Baru belakngan ini saja, Indonesia mengkampanyekan inisiasi menyusui dini di rumah-rumah sakit.

Rumah-rumah sakit kadang memberikan susu formula pada bayi yang baru lahir. Kadang terjadi praktik yang tidak etis, dimana terjadi kesepakatan antara pihak rumah sakit dan produsen susu atau obat tertentu untuk mempromosikan produk-produk mereka pada pasien. Ada juga kaum perempuan yang hanya mau menyusui bayinya sampai usia enam bulan dengan alasan produksi ASI nya sudah berkurang. Padahal hal itu bisa diatasi dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan berkalori.

Di sisi lain, karena faktor sang bayi, banyak para ibu yang harus berjuang agar bayinya mau menyusu ASI dan menolak memberikan susu botol pada bayinya yang baru lahir. Untuk kasus seperti ini, seorang ibi membutuhkan dukungan dari suami dan anggota keluarga lainnya dan si ibu dibiarkan untuk bersama-sama dengan bayinya paling tidak di 40 hari pertama kehidupan sang bayi.

Mengingat pentingnya ASI, patut disayangkan jika kaum perempuan Muslim enggan memberikan ASI pada bayi-bayinya yang baru lahir.Karena pemberian ASI yang baik akan menciptakan generasi-generasi Muslim yang kuat, sehat dan cerdas baik dari sisi intelektual maupun emosional, seperti hasil penelitian para ilmuwan tentang manfaat ASI. (ln/iol)

Source: eramuslim.com

Sabtu, 12 Desember 2009

Untukmu Mujahidah


Saudariku yg dimuliakan Allah SWT, sungguh Allah SWT telah berfirman:

“Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan kemenangan yang besar”

Saudariku yg dimuliakan Allah SWT, di kehidupan kita tiada kebahagiaan yang sempurna, selain kebahagiaan seseorang dalam rumah tangganya,

Dan kebahagiaannya di akhirat kelak. Begitu pula, tiada penderitaan yang paling menyakitkan, selain penderitaan dalam kehidupan rumah tangganya dan penderitaannya kelak di akhirat.

Maka siapa saja yg merasa bahagia, dalam menjalani rumah tangganya, diapun pasti akan bahagia dalam menjalani hidup sesamanya. Begitu pula sebaliknya, jika dia merasakan kehilangan ketenangan jiwa didalam kehidupan rumah tangganya, maka kehidupannya dengan bersama yang lainpun akan terasa membosankan dan menyusahkan.


Saudariku, taukah kamu? Kebahagiaan bukanlah bintang ajaib, yang jatuh kepada setiap kita, lantas kita akan merasakannya dan siapa yang tidak mendapatkan bintang itu, maka hidupnya akan menderita dan susah. Akan tetapi kebahagiaan terjadi diluar kemampuan manusia, terjadi diluar ambang batas kesanggupan manusia, dan itu hanya bisa diraih dengan tekad yang kuat, usaha dan juga kerja keras. Kebahagiaan yang penuh aral melintang, dan juga batu terjang menghadang, kebahagiaan hakiki yang menjadi janji Rabbull ‘Izzati, kebahagiaan yang tak jarang orang mati dalam meniti, hingga menjadikan sedikit sekali orang merindukannya, karena indahnya dunia,

Indahnya dunia dan banyaknya harta, telah melenyapkan dan mengalahkan janji Rabbnya.

Saudariku yg dimuliakan Allah SWT, satu – satunya yang dapat mengantarkan kita kedalam kebahagiaan, dan ketenangan didunia, serta keselamatan dan keberuntungan kita di akhirat kelak, adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan yang menuntut keikhlasan, ketaatan yang tidak menjadikan hati menjadi berat, ketaatan yang menuntut penerimaan yang tulus dalam diri kita, ketaatan yang menuntut pengorbanan, harta, keluarga, bahkan jiwa sekalipun dalam diri kita. Oleh karena itu Saudariku yg dimuliakan Allah SWT, sungguh indah bila tatanan rumah tangga dihiasi dengan bingkai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya,,, alangkah bahagianya bila suamimu adalah orang yang selalu mendermahkan hidup, harta dan jiwanya untuk meraih kemuliaan di sisi Allah SWT, keningnya senantiasa tunduk karena sujud, lisannya takkan pernah lelah karena berzikir, keringatnya takkan pernah kering dan debu selalu menyelimuti pakaiannya, karena kecintaannya berjuang di jalan Allah SWT, engkau… ya engkau dan anakmu, tak pernah memalingkannya untuk meraih kemuliaan disisi Rabbnya, justru suamimu akan menjadikanmu dan anakmu sebagai bahtera yang menyelamatkan kehidupannya dan bukan sebagai penghalang atau penghancur kebahagiaannya. Suamimu akan selalu menanamkan sikap Qona’ah dan juga keperwiraan kepada keluarganya juga tidak pernah berkecil hati dengan segala pemberian Rabbnya.

Saudariku yg dimuliakan Allah SWT, alangkah mulianya bila dirimu mendermahkan hidup, harta dan jiwamu meraih kemuliaan disisi Allah SWT, kemuliaanmu akan kamu raih dengan ketaatanmu kepada suamimu, selalu menjaga rahasia, harta, dan kehormatan suamimu. Karena taukah kamu? Bila surga dan nerakamu terletak pada ketaatanmu, biarkanlah bibir merahmu yang merekah selalu tersenyum simpul dengan pemberian suamimu yang tercinta, biarkanlah dari tanganmu yang lembut dan mulia tumbuh dan berkembang sosok – sosok perwira, malammu selalu dihidupkan untuk berdo’a memohon dan merajuk kepada Rabbul ‘Izzati demi kemuliaan diri, anak dan suamimu. Kamu tidak akan pernah rela bila suamimu tergoda oleh ni’mat dunia yang fana dan hatimu pun tidak akan pernah tenang bila suamimu lari dari ladang perjuangan, kamupun tidak ingin menjadi penghalang suamimu tuk meraih kemuliaannya. Oleh karena itu saudariku, banggalah dengan dirimu, banggalah dengan keadaanmu, karena kamu istri seorang Mujahid, ya… kamu istri seorang Mujahid dan kamu bukannlah istri seorang konglomerat. Kalau suamimu ingin meninggalkan Jihad ini dari kerja siang malam setengah mati, mungkin saja rezkinya disana akan memberikan tambahan uang untuk kamu, tetapi kamu? Kamu akan mendapatkan banyak sekali kerugian dikehidupannmu. Taukah kamu wahai saudariku??? Seorang suami yang jauh dari Jihad, jauh dari zikir, dan jauh dari Islam, dia akan senang bermain diluar, berkhianat diluar dan dia tidak akan pernah bisa mendidik juga tidak pernah bisa membuat anak – anaknya menjadi orang – orang yang berjiwa mulia. Saudariku, akhirnya toh kamu akan menuah, keriput, layu, mengenang masa lalu yang kelam, tapi jangan lupa wahai saudariku, jangan pernah lupa, kalau dirumahmu ada seorang Mujahid, oh… sungguh suatu kebanggan tersendiri dirumahku ada seorang Mujahid, suatu kebanggaan luar biasa seorang wanita mempunyai suami seorang Mujahid. Boleh jadi dia seorang yang tak punya, boleh jadi dia seorang yang tak perkasa, namun itu semua tak mengapa karena dia Mulia dimata Rabbnya.

Saudariku yg dimuliakan Allah SWT, apalah arti keindahan? Karena keindahan itu di hati dan ditelingaku, apalah arti dari sebuah kekayaan? Karena kakayaan itu adalah hati dan iman, jangan pernah kau sakiti dia, siapa tau dia telah mempunyai seorang istri di syurga sana, sedang memarahimu dan mengatakan “biarkanlah dia, biarkanlah dia jangan kau ganggu suamiku” saudariku, jangan sampai malaikat mencercahmu, karena kamu telah memisahkan sang Mujahid dimalam hari, dan menggurutinya dipagi hari.

Demi Allah, demi Allah kehidupanmu akan susah, dan perjalananmu akan terasa berat bila kamu menyulitkannya, tidakkah kamu ingin kembali berkumpul bersamanya kelak di Jannah???

Ohhh,,, sungguh suatu kembagaan tersendiri, dirumahku ada seorang Mujahid

Shoutbox

Afwan Shout Box baru saja kami reset. Masih dalam perbaikan. Jazakallah...

 

Support To

Copyright © 2009 Mujahidah Cyber All Rights Reserved. Powered by Blogger